RSS


NASKAH KAJIAN AKADEMIK ATAS RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 November 2011 in Uncategorized

 

Surat Dari Kekasih


SURAT DARI KEKASIH

Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu….
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja…
Tak sedikitpun kau menyadari Aku di dekat mu.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk…

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berpikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku berpikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya…..

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku
tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-
waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.

Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa karena mungkin
engkau masih belum menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…

Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih tidak mempedulikan Aku.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU….

Apakah salahKu padamu …? Rezeki yang Kulimpahkan,
kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.

Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu….

Khalil Gibran.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2011 in Uncategorized

 

Semangat Baru


Setelah Sekian Lama tidur…Blog FHUNSUB ini coba di bangun kembali sebagai media pembelajaran buat kita, civitas akademika FH UNSUB juga kawan-kawan lain pemerhati hukum. silakan kirimkan masukan, saran, kritikan lewat media ini secara jujur, argumentatif dan beretika berkenaan dengan pelayanan akademik dan masalah perkuliahan yang lainnya.

Dalam media ini juga akan kami coba sajikan kebutuhan perkuliahan seperti materi kuliah, handout serta tulisan lepas dari para dosen FH UNSUB…OK selamat berselancar….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Oktober 2011 in Uncategorized

 

Fakultas Hukum Universitas Subang


FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUBANG
MENCETAK SARJANA HUKUM AL-AMIN
Oleh :
UJANG CHARDA S.
Dekan Fakultas Hukum Universitas Subang

Di era reformasi, masyarakat luas menuntut bukan hanya Sumber Daya Manusia (SDM) lulusan perguruan tinggi yang memiliki kualitas intelektual/pengetahuan (knowledge/cognitive) dan kualitas keterampilan (skill/sensori motor) yang cukup tinggi, tetapi justru memiliki kualitas sikap/nilai kejiwaan (atitude/affective). Slogan reformasi saat ini, yaitu KKN jelas menuntut kualitas SDM (Sarjana Hukum/Penegak Hukum) yang bersih dan berwibawa, yang jujur dan bermoral, tidak korup dan dapat dipercaya menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, memiliki kematangan kejiwaan, kematangan etika, kemantapan budaya, dan hati nurani yang cukup
tinggi dalam mengemban dan menegakkan nilai-nilai yang sangat mendalam dan mendasar dari hukum. Oleh karena itu, melalui proses pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Subang diharapkan adanya keseimbangan antara proses pembentukan Sarjana Hukum sebagai homo juridicus (jurist) dan sebagai homo ethicus. Gabungan kedua kualitas ini dapat pula disebut dengan istilah Sarjana Hukum (SH) Al-Amin. SH sebagai simbol homo juridicus dan Al-Amin artinya yang dapat dipercaya, sebagai simbol homo ethicus dan itu semua tidak lahir dengan sendirinya, akan tetapi lahir lewat proses, yaitu harus dibentuk melalui proses pendidikan, baik perguruan tinggi maupun di lingkungan profesi dan masyarakat luas.
Fakultas Hukum Universitas Subang dalam upaya mewujudkan kualitas lulusannya yang mempunyai simbol homo juridicus dan homo ethicus ditempuh dengan beberapa cara dan upaya, antara lain mengacu pada rumusan UNESCO, bahwa dalam pendidikan perlu dilaksanakan cara belajar dengan menggunakan the four pillars of education, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to lave together. Dalam uraiannya yang lebih rinci, dijelaskan perlunya pilar learning to know berlanjut dengan learning to learn dan learning through the whole life. Pandangan UNESCO tersebut diaktualisasikan pada kurikulum pendidikan tinggi dengan adanya mata kuliah wajib sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK) yang merupakan penjabaran dari simbol homo ethicus, dan mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK) sebagai simbol homo juridicus.
Fakultas Hukum Universitas Subang sebagai pranata pendidikan tinggi secara rasional-sistematis bukan hanya mentransfer pengetahuan ilmiah tantang sistem hukum serta menumbuhkan kemampuan berpikir yuridis dan rasional (proses kreatif dan aktif untuk menemukan pengetahuan yang kritis) sebagai perwujudan homo juridicus dan homo ethicus, tetapi juga untuk pembentukan alur pikir pandangan hidup manusia Indonesia pada umumnya dan khususnya masyarakat Subang yang religius sebagai acuan atikan dan tata krama manusia unggul dan kompetitif yang pengguh agamana (SQ), luhung elmuna (IQ), jembar budayana (EQ), dan rancage gawena (AQ) atau yang disebut juga catur jati diri insan yang merupakan kerangka pikir posisi strategis sebagai pilar pembangunan pendidikan berbasis kompetensi.
Untuk pencapaiannya dikembangkan proses berperilaku sebagai suatu karakter yang berlandaskan silih asih, silih asah dan silih asuh yang secara posisional, proporsional dan profesional berlandaskan moral/etika, sehingga dengan proses ini diharapkan dapat membentuk insan Indonesia yang religius dengan catur jati diri insan-nya dengan penanda utama Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dengan indikatornya cangeur, bageur, bener, dan pinter serta mampu mengatasi masalah dan tantangan hidup proaktif, beretos kerja tinggi, berprestasi dengan karakter pelindungnya singer, teger, pangger, wanter, dan cangker yang selanjutnya diaktualisasikan di semua institusi formal, non formal, dan in formal untuk dijadikan acuan berperilaku sebagai konkritisasi telah mampu berperan seutuhnya sebagai insan yang rakhmatan lil’alamin di tataran personal, lokal, regional, dan internasional yang hasilnya diharapkan akan memberikan warna kepada seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Subang yang akhlakul karimah yang ditandai dengan enam moral kualitas manusia, yaitu moral terhadap Tuhan, pribadi, manusia lain, alam, waktu yang pada akhirnya dapat bermuara dalam mencapai kesejahteraan lahir dan batin yang ditandai dengan kesadaran etika dan estetika sebagai aktualisasi manusia Indonesia yang nyantri, nyantana, nyatria dalam mewujudkan masyarakat madani (civil societas) dalam bentuk perilaku yang egaliter, equaliter dan interdependency.
Pembentukan homo juridicus lebih terfokus pada kemampuan penguasaan norma dari aspek cognitive dan aspek sensorimotor (skill), sedangkan homo ethicus lebih terfokus pada kemampuan penguasaan nilai dari aspek effective (attitude). Perbedaan objek dan karakter/kualitas kemampuan ini tentunya menuntut metode pendekatan yang berbeda. Proses penguasaan norma mungkin lebih dapat dicapai dengan pendekatan rasional/logika, sedangkan proses penguasaan nilai lebih menuntut pendekatan kejiwaan/kerohanian, karena sasaran yang akan disentuh adalah nilai-nilai kejiwaan. Kedua pendekatan tersebut (pendekatan rasional dan pendekatan kejiwaan) tentunya harus ada dalam pendidikan ilmu hukum. Salah satu alternatif pendekatan kejiwaan yang dapat ditawarkan adalah pendekatan agamis (nilai-nilai Ketuhanan) dalam pendidikan ilmu hukum yang bersumber dari Pancasila, hal ini pernah dikatakan oleh Moeljatno bahwa : “Dalam negara kita yang berdasarkan Pancasila, dengan adanya sila Ketuhanannya, maka tiap ilmu pengetahuan (termasuk ilmu hukum, pen) yang tidak dibarengi dengan ilmu Ketuhanan adalah tidak lengkap”. Dengan demikian, tidak perlu ada “sekularisasi” dalam pendidikan hukum di Indonesia. Upaya peningkatan kualitas pembangunan dan penegakan hukum tentunya bukan semata-mata terletak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang hukum, tetapi juga meliputi kualitas institusional (struktur hukum), termasuk kualitas mekanisme tata kerja/manajemen, kualitas sarana/prasarana, kualitas perundang-undangan (substansi hukum), dan kualitas kondisi lingkungan yang lebih luas (sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial dan budaya, termasuk budaya hukum masyarakat).
Sumber : Tulisan ini penulis muat dengan mengingat literatur dalam Jurnal Wawasan Hukum Edisi Khusus, 2006.

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 26 April 2009 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.